oleh : Ratnadewi Idrus
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya kamu selalu ingat. (QS. Al Araf 7:26)
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab 33:59)
*****
"Dunia ini semakin kacau Nisa! bunga-bunga semakin berani memamerkan aurat tubuhnya! astaghfirullaah.. kenapa mereka tidak mengerti?, kenapa Qalbu yang lembut itu tertutup? kenapa mereka lebih cinta dunia daripada Zat Yang Menciptakannya?.. kenapa?!.. "
Keluh Kasturi suatu ketika, ada semburat kemarahan dan kekecewaan di sana.
"Apakah mereka tidak sadar diri bahwa dulunya mereka mati?!, Apakah mereka tidak bersyukur bahwa dulunya mereka tak berbentuk?!, dan kini.. mereka memilih menjual nyawa daripada menjaga kehormatannya! Padahal Allah begitu menyayangi mereka! Mereka korbankan jiwa demi uang, popularitas atau nama!". Padahal semua akan tinggal!..
Sungguh.. kasihan sekali!, apakah mereka tidak pernah membaca sejarah bahwa di zaman jahiliyah kehadiran mereka adalah lambang kenistaan?!, lebih baik mereka di kubur hidup-hidup daripada dipelihara dengan tanggungan kehinaan! dan kini setelah dimuliakan, mereka malah berbalik merendahkan dirinya!. Sudah di dunia rendah, apatah lagi di akhirat kelak?!
Gara-gara mereka cermin wanita ternoda! gara-gara mereka fitnah merajalela!, gara-gara mereka dunia ditimpa malapetaka!. Aku benci mereka Nisa.. aku benci!.."
Semua terdiam mendengar perkataan Kasturi. Untaian katanya begitu menusuk, tajam dan mungkin menyakitkan?!. Sementara Nisa mencoba tersenyum menahan pahitnya kenyataan.
"Apa yang engkau keluhkan ini, sama seperti yang kukeluhkan dulu, Kasturi..". Ujar Nisa pelan, seraya melirik Ayuning yang duduk di sampingnya.
"Kebencianmu pada mereka bisa Nisa maklumi karena cintamu pada Allah.., sebagaimana sabda Rasul-Nya: Iman yang paling utama adalah bahwa engkau mencintai (seseorang) karena Allah dan membenci (seseorang) karena Allah. (At Thabrani)
Membenci mereka, karena tidak memperhatikan Firman Allah!, sebab itu timbul usaha untuk merangkul mereka dengan kasih sayang agar kembali mendapat keridhaan Allah. Betul begitukan ?!.."
Kasturi menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan. Selanjutnya ketiga sahabat itu tenggelam dalam perbincangan panjang.
*****
Nisa memohon pada Yang Maha Kuasa agar memberikannya kekuatan, ia sadar sepenuhnya yang hadir di pengajian melati bukan hanya mereka yang mengenakan pakaian yang disyariatkan Allah. Usai berdo'a, perlahan ia mulai memberikan salam dan percikan.
"Ukhty, Allah Swt yang sangat menyayangimu berfirman:
Hai Anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al Araf 7:27)
Allah telah memberitahukan keadaan nenek moyang kita dulu sewaktu diperdayakan, betapa senangnya syaitan melihat aurat Adam dan Hawa, begitu pula dengan kita. Sungguh! aurat yang tak terjaga itulah gerbang pembuka kemaksiatan di muka bumi ini!
Sungguh ukhty, Allah yang menciptakan kita lebih tahu mana yang terbaik untuk ciptaan-Nya! Allah menyuruh kita menjaga aurat karena tidak ingin kita teraniaya dan celaka.
Dulu kita tidak ada, dengan kasih sayang-Nya, Ia menghadirkan kita. Pernah melihat lukisan indah seseorang?. Kita saja yang melihatnya akan merasa takjub dan menghargainya, apatah lagi yang melukiskannya?!.. Tentu Sang Pelukis lebih menghargai lukisannya, lebih menyayanginya, daripada insan yang hanya menilai. Begitu pula Allah terhadap kita ukhty! Allah tidak ingin lukisan-Nya dihina dan hidup sia-sia di dunia ini!.
Siapa yang paling menyayangimu kalau bukan Allah?. Rasakanlah kasih sayangnya dari lukisan wajah indahmu di hadapan cermin itu. Begitu sempurna!, Begitu indah! Tidakkah engkau ingin mensyukurinya?.
Rasakan pula dalam setiap degup jantungmu, denyut nadimu, desah nafasmu, dan setiap apa yang engkau rasa pada dirimu. Tidak terpikirkah betapa Allah senantiasa merawatmu?!. Ia tak pernah menghentikan dan membiarkanmu sedikitpun kesusahan. Walau betapa banyak salahmu, Allah masih selalu mengasihimu, mengasihimu!. Begitu banyak nikmat yang Ia berikan, jangankan untuk bersyukur, diri kita malah kufur.
Bukankah nikmat rasanya jika disayang itu ya ukhty? jikalau kita sudah mengerti, mengapa kita tidak ingin disayang oleh yang Maha Penyayang itu sendiri?!.. kenapa kita tidak ingin dicinta Sang Pencipta kita sendiri?!..
Kelak apa yang kita lakukan di dunia ini diminta pertanggungjawaban! kelak seluruh anggota tubuh itu ditanya apa saja yang diperbuatnya! Kelak kita akan mengetahui kita selamat atau celaka!!!
Karena itu, kuketuk dalam pintu hatimu, dengan segenap kemampuan jiwa dan ragaku, taqwalah dirimu dengan menjaga baik-baik apa yang Allah titipkan kepadamu. Tutupilah aurat itu sebelum tiba masanya manusia tidak lagi memperdulikannya. Yaitu ketika seluruh langit dan bumi ini musnah dan terganti!, ketika seluruh umat manusia berkumpul dalam keadaaan tubuh tak tertutup sehelai benangpun. Tak ada lagi yang memperdulikan, karena masing-masing telah sibuk dengan urusannya masing-masing!.
Duhai yang dianugerahi kelebihan rasa, duhai yang lebih dekat pada cinta, patuhlah pada Tuhanmu, kenakan pakaian taqwa itu, selamatkan dirimu! Ulurkan jilbab ke seluruh tubuhmu! Tolong.. sempunakan ia!
Tiba-tiba seorang wanita mendekati Nisa dengan berlinang air mata,
"Boleh kupinjam jilbabmu untuk menutupi rambut dan seluruh tubuhku yang dibalut baju minim ini, Nisa?!".
Nisa memandang wanita yang ada dihadapannya. "Cathy! Betulkah apa yang kudengar tadi?!, engkau mau mengenakan jilbab?".
Wanita itu menganggukkan kepalanya, seraya menangis. "Iya Nisa, karena aku takut murka Allah.. takut kehilangan kasih sayang-Nya.. takut tidak diperdulikan-Nya di akhirat kelak.. takut tak bisa memandang wajah-Nya.. dan aku takut Allah tidak mencintaiku Nisa.. aku takut Allah tidak mencintaiku!.."
Mendengar ucapan itu, Nisa memeluk Cathy, menciuminya, hampir ia tidak percaya bahwa gadis manis itu tergugah untuk menutup auratnya, Semua ini karena-Mu ya Allah!, Tiada daya dan upaya kecuali atas pertolongan-Mu. Kemudian yang lain ikut menyalami Cathy, memeluk dan menciuminya sebagai ucapan selamat karena telah mendapat hidayah. Pada hari itu juga, dia tidak hanya mendapat 1 gaun muslimah lengkap, namun lebih!. Tambah satu lagi Melati itu, Ya Allah! Ucap Nisa seraya tersenyum bahagia, bahagia!.
=====================================================================================
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur 24:31)
5.20.2009
4.14.2009
Pernahkah kau bicara tapi tak didengar
Tak dianggap sama sekali
Pernahkah kau tak salah tapi disalahkan
Tak diberi kesempatan
Kuhidup dengan siapa ku tak tahu kau siapa
Kau kekasih ku tapi orang lain bagiku
Kau dengan dirimu saja kau dengan duniamu saja
Teruskanlah teruskanlah kau begitu
Kau tak butuh diriku aku patung bagimu
Cinta bukan kebutuhanmu
Kau dengan dirimu saja
kau dengan duniamu saja
Teruskanlah teruskanlah
Kau kau begitu
Teruskanlah
***
Cinta apa yang sedang terjadi...
Seminggu tanpa berita...
Seminggu tanpa cerita...
Seminggu juga tanpa bicara...
Dan cinta sedang apakah dirimu,
Mengapa tak ada kabar,
Mengapa tak jua datang.
Dimanakah dirimu berada,
Cinta jangan engkau tinggalkan aku,
Aku tau aku yang bersalah,
Ku pikir ku bisa tanpa mu,
Tapi aku tak sekuat itu,
Kumohon kau kembali ke pekuk ku,
Namun bila engkau tak kembali,
Mungkin lebih baik ku mati saja,
Cinta sedang apakah dirimu,
Mengapa tak ada kabar,
Mengapa tak jua datang,
Diam mu buat hatiku pilu,
Dan cinta...
Aku meminta maaf mu,
Ku juga minta sayang mu,
Tunjukan apa salah ku.
Kini aku sadari kau lah yang terbaik,
Dan tak ada yang bisa gantikan cintamu...
***
Hanya air mata
Dan sesal kurasa
Di depanku kau bercinta
Kau ingkari janjimu
Tuk setia bersamaku
Kini kau bunuh hatiku
Ku tak ingin dengar ratapanmu
Dan ku tak kan lagi menyentuhmu
Pergi dan jangan kembali
Ku ingin sendiri
Perjalanan panjang cinta kita
Sekejap kau hancurkan slamanya
Inikah takdir untukku
Dicintai tuk disakiti
Ku tahu kau masih sayang
Dan menyesali sgalanya
Ooh sayang maaf ku tak bisa
Jangan kembali
Ku ingin sendiri
------------------------------------
* teruskanlah - agnes monica
* serpihan sesal - maia
* dicintai untuk disakiti - ari
.[~_~].
Tak dianggap sama sekali
Pernahkah kau tak salah tapi disalahkan
Tak diberi kesempatan
Kuhidup dengan siapa ku tak tahu kau siapa
Kau kekasih ku tapi orang lain bagiku
Kau dengan dirimu saja kau dengan duniamu saja
Teruskanlah teruskanlah kau begitu
Kau tak butuh diriku aku patung bagimu
Cinta bukan kebutuhanmu
Kau dengan dirimu saja
kau dengan duniamu saja
Teruskanlah teruskanlah
Kau kau begitu
Teruskanlah
***
Cinta apa yang sedang terjadi...
Seminggu tanpa berita...
Seminggu tanpa cerita...
Seminggu juga tanpa bicara...
Dan cinta sedang apakah dirimu,
Mengapa tak ada kabar,
Mengapa tak jua datang.
Dimanakah dirimu berada,
Cinta jangan engkau tinggalkan aku,
Aku tau aku yang bersalah,
Ku pikir ku bisa tanpa mu,
Tapi aku tak sekuat itu,
Kumohon kau kembali ke pekuk ku,
Namun bila engkau tak kembali,
Mungkin lebih baik ku mati saja,
Cinta sedang apakah dirimu,
Mengapa tak ada kabar,
Mengapa tak jua datang,
Diam mu buat hatiku pilu,
Dan cinta...
Aku meminta maaf mu,
Ku juga minta sayang mu,
Tunjukan apa salah ku.
Kini aku sadari kau lah yang terbaik,
Dan tak ada yang bisa gantikan cintamu...
***
Hanya air mata
Dan sesal kurasa
Di depanku kau bercinta
Kau ingkari janjimu
Tuk setia bersamaku
Kini kau bunuh hatiku
Ku tak ingin dengar ratapanmu
Dan ku tak kan lagi menyentuhmu
Pergi dan jangan kembali
Ku ingin sendiri
Perjalanan panjang cinta kita
Sekejap kau hancurkan slamanya
Inikah takdir untukku
Dicintai tuk disakiti
Ku tahu kau masih sayang
Dan menyesali sgalanya
Ooh sayang maaf ku tak bisa
Jangan kembali
Ku ingin sendiri
------------------------------------
* teruskanlah - agnes monica
* serpihan sesal - maia
* dicintai untuk disakiti - ari
.[~_~].
4.11.2009
Jangan Pinta Saya Membuka Kerudung
Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi perpustakaan LPPI di Kemang, mengumpulkan beberapa UU Perbankan untuk tugas akhir saya, perpustakaannya sangat teduh dan tatanannya rapi, dengan meja bundar bundar seperti di sebuah kafe :) dan duduklah saya disana ditemani notebook tercinta ini, gak ada teh hangat yah? :) ehm…
Tak berapa lama duduk dihadapan saya seorang perempuan sebaya saya, ehm dia mungkin lebih muda dari saya bahkan dan tatapan matanya lekat memperhatikan setiap centi tubuh saya, karena tak tahan di tatap maka saya menutup separuh layar notebook saya dan mulai bertanya “Ada apa ya mbak, koq gitu ngeliatinnya?” jawabannya menggelitik saya “kenapa sih koq cantik cantik pake jilbab apa gak sayang tuh ditutup gitu?” awalnya saya agak gerah dan tidak hendak melanjutkan debat ini, pertama karena saya tidak suka debat tentang sesuatu yang jelas jelas diwajibkan oleh ALLAH atas saya, yaitu berhijab, tapi hati saya berbisik “kalem De, senyum dulu aja” :) dan pembicaraan kamipun jadi melebar, dan ini sedikit kutipan dari diskusi kami:
Q1: “kan kita perempuan penuh dengan keindahan dari Tuhan, jadi bagian dari syukur dong kalo dibuka bukan untuk ditutupi kaya situ”
Jawaban Saya: Untuk saya mbak, banyak banget nikmat ALLAH bukan hanya kecantikan dan cara saya mengungkapkan rasa syukur saya adalah dengan menjalankan perintahNYA, menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNYA, pernah gak mbak membayangkan manakala ALLAH mencabut nikmat kecantikan yang dititipkan kepada kita? Pernahkah mbak sadari bahwa kecantikan itu adalah ujian dari ALLAH, sejauh mana kita bersyukur atas kecantikan ini? Pernahkan kita renungi manakala ALLAH meminta pertanggungjawaban dari nikmat kecantikan yang telah dianugerahkanNYA, sementara kita menggunakannya tidak berlandaskan syari’at ALLAH?
Dan jika mbak mengatakan bahwa ‘Kecantikah itu untuk diperlihatkan, bukan untuk ditutupi, coba kita tanya lagi diri kita, relakah kecantikan mbak dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh dari mbak? relakah mbak menjadi objek yang dilihat, bagi semua orang, yang jahat maupun yang terhormat? bahkan kecantikan kita telah menjadi tangan setan untuk menggoda laki laki kan kalo begini jadinya? Bagaimana kita bisa menyelamatkan diri kita dari mata para lelaki yang bukan muhrim kita? … Mau engga mbak jika diri mbak dihargai serendah itu, sementara kita bisa menjadi seorang wanita yang mulia di mata ALLAH? kalau saya sih gak mau jadi setan mbak, saya ingin mulia dimata ALLAH dan saya memilih berkerudung seperti ini, jadi gimana mbak? :)
Q2: “Gak tahu yah, Saya belum siap berperilaku dan berakhlak sebagaimana muslimah yang berkerudung. Yang berkerudung saja perilakunya tidak sesuai dengan kerudungnya, tetangga saya mbak hamil diluar nikah padahal dia berkerudung loh”
Jawaban Saya: Mbak, gimana kalau kita tunaikan kewajiban kita dulu kepada ALLAH yang memiliki napas kita, dan kemudian secara perlahan memperbaiki segala akhlak buruk yang masih sulit kita tinggalkan, mbak pernah gak sadar dengan semakin lamanya kita tunda berkerudung, maka sedemikian menumpuklah dosa besar yang terus menggunung, yang harus dibalas dengan siksaan ALLAH, kuatkah kita menjalaninya? Dosa yang terus mengalir dari hari ke hari, semakin memperberat timbangan dosa kita. Masih sanggup mbak?
Sementara bagi teman teman kita yang telah berkerudung, namun perilakunya tidak sesuai dengan kerudungnya, maka berprasangka baiklah, bahwa minimal ia telah menunaikan tugasnya sebagai hamba ALLAH, dalam hal menutup auratnya, sedangkan mbak masih enggan menjalaninya kan?. Dan sifat kurang baiknya adalah tugas kita bersama untuk memperbaikinya, dengan nasihat-nasihat yang baik, dan ikhlas, karena boleh jadi ia belum mengetahui ilmunya, sementara ia baru mendapatkan ilmu wajibnya berkerudung, dan ia segera menunaikannya. Mana lebih baik mbak? belum sama sekali atau sudah jalan setapak? :)
Dan bukan hak kita untuk menghakimi orang lain, karena penilaian manusia banyak salahnya, dan sifatnya amatlah abstrak. Pernah dengar kalimat Sami’na wa Atho’na, sebagai implementasi Laa Ilaaha Illa Allah (Tidak ada yang lebih kita cintai kecuali ALLAH semata, hidup kita hanyalah untuk ALLAH, Yang Menciptakan kita, dan kepadaNYA kelak aku akan kembali… jadi gimana mbak? :)
Dan diskusi saya berakhir hingga disini karena si mbak membereskan buku buku nya, berdiri dan pergi :) semoga suatu hari saya bertemu lagi dengannya dan ia telah berkerudung seperti saya jadi JANGAN paksa untuk melepas kerudung saya yah, inilah saya dan saya bangga dengan kerudung saya ini, demi ALLAH yang nikmatnya tiada terbandingi, maka nikmat manakah lagi yang dapat kita pungkiri :)
‘Sami’na wa atho’na, ghufronaka rabbanaa wa ilaykal mashiir (Q.S. Al Baqarah:285)’, (Kami dengar dan kami segera ta’at, ampuni kami ya Allah, kepadaMulah tempat kembali kami), dan padahal ALLAH membenci orang-orang yang berkata, ‘Sami’na wa ‘ashoina (Q.S. Al Baqarah:93/Q.S. Annisa:46)’, (Kami dengar tapi kami tidak mena’atinya).
ah hinanya kita jika tidak mentaati ALLAH yang telah menitipkan napas yang sempurna, mata yang dapat melihat, kaki yang mampu berlari maka pakailah wahai perempuan, gak ada alasan lagi untuk membantah… yok pake kerudung :) :)
-------------------------------------------------
sumber : http://rinduku.wordpress.com/2009/03/25/jangan-pinta-saya-membuka-kerudung/
syukron buat ukhti rindu....
Tak berapa lama duduk dihadapan saya seorang perempuan sebaya saya, ehm dia mungkin lebih muda dari saya bahkan dan tatapan matanya lekat memperhatikan setiap centi tubuh saya, karena tak tahan di tatap maka saya menutup separuh layar notebook saya dan mulai bertanya “Ada apa ya mbak, koq gitu ngeliatinnya?” jawabannya menggelitik saya “kenapa sih koq cantik cantik pake jilbab apa gak sayang tuh ditutup gitu?” awalnya saya agak gerah dan tidak hendak melanjutkan debat ini, pertama karena saya tidak suka debat tentang sesuatu yang jelas jelas diwajibkan oleh ALLAH atas saya, yaitu berhijab, tapi hati saya berbisik “kalem De, senyum dulu aja” :) dan pembicaraan kamipun jadi melebar, dan ini sedikit kutipan dari diskusi kami:
Q1: “kan kita perempuan penuh dengan keindahan dari Tuhan, jadi bagian dari syukur dong kalo dibuka bukan untuk ditutupi kaya situ”
Jawaban Saya: Untuk saya mbak, banyak banget nikmat ALLAH bukan hanya kecantikan dan cara saya mengungkapkan rasa syukur saya adalah dengan menjalankan perintahNYA, menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNYA, pernah gak mbak membayangkan manakala ALLAH mencabut nikmat kecantikan yang dititipkan kepada kita? Pernahkah mbak sadari bahwa kecantikan itu adalah ujian dari ALLAH, sejauh mana kita bersyukur atas kecantikan ini? Pernahkan kita renungi manakala ALLAH meminta pertanggungjawaban dari nikmat kecantikan yang telah dianugerahkanNYA, sementara kita menggunakannya tidak berlandaskan syari’at ALLAH?
Dan jika mbak mengatakan bahwa ‘Kecantikah itu untuk diperlihatkan, bukan untuk ditutupi, coba kita tanya lagi diri kita, relakah kecantikan mbak dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh dari mbak? relakah mbak menjadi objek yang dilihat, bagi semua orang, yang jahat maupun yang terhormat? bahkan kecantikan kita telah menjadi tangan setan untuk menggoda laki laki kan kalo begini jadinya? Bagaimana kita bisa menyelamatkan diri kita dari mata para lelaki yang bukan muhrim kita? … Mau engga mbak jika diri mbak dihargai serendah itu, sementara kita bisa menjadi seorang wanita yang mulia di mata ALLAH? kalau saya sih gak mau jadi setan mbak, saya ingin mulia dimata ALLAH dan saya memilih berkerudung seperti ini, jadi gimana mbak? :)
Q2: “Gak tahu yah, Saya belum siap berperilaku dan berakhlak sebagaimana muslimah yang berkerudung. Yang berkerudung saja perilakunya tidak sesuai dengan kerudungnya, tetangga saya mbak hamil diluar nikah padahal dia berkerudung loh”
Jawaban Saya: Mbak, gimana kalau kita tunaikan kewajiban kita dulu kepada ALLAH yang memiliki napas kita, dan kemudian secara perlahan memperbaiki segala akhlak buruk yang masih sulit kita tinggalkan, mbak pernah gak sadar dengan semakin lamanya kita tunda berkerudung, maka sedemikian menumpuklah dosa besar yang terus menggunung, yang harus dibalas dengan siksaan ALLAH, kuatkah kita menjalaninya? Dosa yang terus mengalir dari hari ke hari, semakin memperberat timbangan dosa kita. Masih sanggup mbak?
Sementara bagi teman teman kita yang telah berkerudung, namun perilakunya tidak sesuai dengan kerudungnya, maka berprasangka baiklah, bahwa minimal ia telah menunaikan tugasnya sebagai hamba ALLAH, dalam hal menutup auratnya, sedangkan mbak masih enggan menjalaninya kan?. Dan sifat kurang baiknya adalah tugas kita bersama untuk memperbaikinya, dengan nasihat-nasihat yang baik, dan ikhlas, karena boleh jadi ia belum mengetahui ilmunya, sementara ia baru mendapatkan ilmu wajibnya berkerudung, dan ia segera menunaikannya. Mana lebih baik mbak? belum sama sekali atau sudah jalan setapak? :)
Dan bukan hak kita untuk menghakimi orang lain, karena penilaian manusia banyak salahnya, dan sifatnya amatlah abstrak. Pernah dengar kalimat Sami’na wa Atho’na, sebagai implementasi Laa Ilaaha Illa Allah (Tidak ada yang lebih kita cintai kecuali ALLAH semata, hidup kita hanyalah untuk ALLAH, Yang Menciptakan kita, dan kepadaNYA kelak aku akan kembali… jadi gimana mbak? :)
Dan diskusi saya berakhir hingga disini karena si mbak membereskan buku buku nya, berdiri dan pergi :) semoga suatu hari saya bertemu lagi dengannya dan ia telah berkerudung seperti saya jadi JANGAN paksa untuk melepas kerudung saya yah, inilah saya dan saya bangga dengan kerudung saya ini, demi ALLAH yang nikmatnya tiada terbandingi, maka nikmat manakah lagi yang dapat kita pungkiri :)
‘Sami’na wa atho’na, ghufronaka rabbanaa wa ilaykal mashiir (Q.S. Al Baqarah:285)’, (Kami dengar dan kami segera ta’at, ampuni kami ya Allah, kepadaMulah tempat kembali kami), dan padahal ALLAH membenci orang-orang yang berkata, ‘Sami’na wa ‘ashoina (Q.S. Al Baqarah:93/Q.S. Annisa:46)’, (Kami dengar tapi kami tidak mena’atinya).
ah hinanya kita jika tidak mentaati ALLAH yang telah menitipkan napas yang sempurna, mata yang dapat melihat, kaki yang mampu berlari maka pakailah wahai perempuan, gak ada alasan lagi untuk membantah… yok pake kerudung :) :)
-------------------------------------------------
sumber : http://rinduku.wordpress.com/2009/03/25/jangan-pinta-saya-membuka-kerudung/
syukron buat ukhti rindu....
2.26.2009
Song for Gaza
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
-------------------------------------
a song called 'We will not go down' by Michael Heart
.[^_^].
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
-------------------------------------
a song called 'We will not go down' by Michael Heart
.[^_^].
Langgan:
Entri (Atom)